top of page

Water Quality: Berapakah pH Air yang Aman dan Layak untuk Konsumsi?

4 days ago
3 min read

Air bersih merupakan pilar utama penopang metabolisme tubuh sekaligus elemen penting yang menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Di tengah kemudahan akses pasokan air mineral kemasan maupun air sumur bor, kita tidak boleh mengabaikan parameter standarisasi kualitas air (water quality) yang mengalir ke dalam tubuh harian kita.


Mengonsumsi air tanpa mengetahui kadar keasaman yang tepat berpotensi memicu berbagai gangguan organ pencernaan dan ketidakseimbangan elektrolit. Mengetahui kadar pH yang ideal dapat membantu masyarakat terhindar dari bahaya kontaminasi logam berat maupun gangguan pencernaan kronis.


Pengertian Air Minum

Air minum adalah air yang memenuhi syarat kesehatan sehingga aman untuk dikonsumsi, baik secara langsung maupun setelah melalui proses pengolahan. Pasokan air dapat dikategorikan memiliki kualitas air (water quality) yang memenuhi standar baku mutu kesehatan apabila lulus pengujian pada parameter fisik, kimia, dan biologi.


Dari segi fisik, air yang layak konsumsi umumnya harus jernih secara visual, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Sementara parameter biologi, air harus bebas dari mikroorganisme patogen seperti Escherichia coli (E. coli). Adapun parameter kimia mencakup batas kadar mineral terlarut serta keseimbangan kadar pH.


Pengertian pH Air

pH merupakan singkatan dari potential of hydrogen adalah derajat pengukuran kimia yang digunakan untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen di dalam suatu zat, sekaligus menentukan tingkat keasaman atau kebasaan (alkalinitas) dari suatu larutan cair.


Skala ukur pH umumnya berkisar antara angka 0 hingga 14. Nilai pH di bawah 7 mengindikasikan larutan bersifat asam (acidic), nilai pH tepat di angka 7 menandakan kondisi netral, sedangkan angka pH di atas 7 menunjukkan bahwa larutan bersifat basa atau alkali.


Berapakah pH Air yang Layak Konsumsi?

Untuk menjaga keseimbangan organ tubuh serta kenyamanan pencernaan, standar pH air minum yang aman dan layak konsumsi berada dalam rentang kisaran netral hingga sedikit basa, yaitu antara 6,5 hingga 8,5. Batas ideal baku mutu kualitas air (water quality) ini direkomendasikan secara global oleh World Health Organization (WHO).


Secara umum, air minum di masyarakat memiliki variasi tingkat keasaman yang berbeda bergantung pada sumber air, kandungan mineral, dan proses pengolahan yang dilakukan. Namun, tetap berada pada rentang kualitas air yang aman.


  • Air Mineral Kemasan: Memiliki rata-rata pengukuran pH sebesar 7,4.

  • Air Rebusan Sumur Gali: Memiliki rata-rata pengukuran pH sebesar 6,8. Air rebusan sumur dinilai sangat baik karena nilainya paling mendekati pH netral (pH 7).

  • Air Demineral/Reverse Osmosis (RO): Khusus jenis air pemurnian teknologi ini, standar SNI 6241:2015 menetapkan batas rentang pH yang diperbolehkan adalah antara 5,0 hingga 7,5.


Efek Samping Mengonsumsi Air dengan pH yang Tidak Sesuai

Mengonsumsi air dengan tingkat pH di luar batas baku mutu dapat menimbulkan konsekuensi medis yang merugikan bagi tubuh manusia.


Dampak Air Terlalu Asam (pH <6,5)

Air yang terlalu asam bersifat korosif sehingga dapat melarutkan kandungan logam berat beracun (seperti timbal atau tembaga) dari pipa instalasi air yang dilaluinya. Konsumsi jangka panjang air asam berisiko mengiritasi dinding lambung, merusak lapisan enamel gigi, memicu gangguan pencernaan, serta memberikan rasa pahit atau logam.


Dampak Air Terlalu Basa (pH >8,5 atau >9)

Mengonsumsi air yang terlalu basa secara berlebihan dapat menetralkan dan menurunkan kadar asam lambung secara berlebihan. Padahal, asam lambung sangat dibutuhkan untuk mencerna makanan dan membunuh bakteri patogen. Hal ini memicu rasa mual, perut kembung, dan rasa tidak nyaman di perut.


Selain itu, air terlalu basa berpotensi mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh (menyebabkan kelelahan dan kram otot), memicu iritasi kulit jika digunakan untuk mandi, serta merusak kestabilan flora normal di rongga mulut.


Pentingnya Water Quality Monitoring untuk Menjaga Kualitas Air

Pengujian kualitas air diperlukan untuk mengetahui apakah air memenuhi persyaratan yang berlaku sebelum digunakan untuk konsumsi. Pengukuran pH dapat membantu mengidentifikasi perubahan tingkat keasaman atau kebasaan air, tetapi hasilnya perlu dilengkapi dengan pengujian parameter lain, seperti kekeruhan, kandungan kimia, dan mikrobiologi.


Pemantauan kualitas air menggunakan WQMS (Water Quality Monitoring System) secara berkala membantu mendeteksi perubahan kondisi air dan menjadi dasar untuk menentukan tindakan lanjutan apabila ditemukan hasil yang tidak sesuai. Dengan demikian, pengujian dan pemantauan water quality berperan penting dalam mendukung pengelolaan air yang lebih aman dan terukur.


Sumber:

Comments


bottom of page