top of page

Pengaruh Restorasi terhadap Dinamika Kebakaran Lahan Gambut

Aug 31
3 min read

Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem penting dalam menjaga keseimbangan iklim karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, kondisi gambut sangat bergantung pada keseimbangan tata air. Ketika gambut mengalami pengeringan akibat drainase atau kondisi kemarau, material organik di dalamnya menjadi lebih rentan terbakar dan dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Restorasi lahan gambut adalah upaya untuk mengurangi risiko tersebut. Restorasi dilakukan dengan memperbaiki tata air, memulihkan vegetasi, serta mendukung pengelolaan gambut yang berkelanjutan. Lalu, bagaimana restorasi memengaruhi dinamika kebakaran lahan gambut? Berikut pembahasannya.


Pengertian Lahan Gambut

Lahan gambut merupakan bentuk ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami dekomposisi tidak sempurna selama ribuan tahun. Proses penumpukan ini terjadi dalam kondisi jenuh air dan minim oksigen, sehingga material organik di dalamnya tidak terurai sempurna. Karakteristik inilah yang menjadikan lahan gambut memiliki lapisan tanah organik yang sangat tebal dan kaya akan kandungan karbon.


Sebaran Lahan Gambut di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penampung ekosistem gambut tropis terluas di dunia. Sebaran lahan gambut di Indonesia secara garis besar terpusat di tiga pulau utama, yaitu Sumatra (terutama di wilayah pesisir Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan), Kalimantan (khususnya Kalimantan Tengah dan Barat), serta Papua.


Wilayah tersebut memiliki ekosistem gambut yang luas dengan karakteristik hidrologi dan bentang alam yang beragam. Informasi mengenai sebaran gambut penting dalam perencanaan pengelolaan, perlindungan, dan restorasi ekosistem.


Peran Lahan Gambut

Dalam kondisi alaminya yang basah, ekosistem ini memegang peran krusial yang tidak tergantikan, baik bagi lingkungan maupun kehidupan di sekitarnya.


1. Kehidupan Manusia

Bagi masyarakat sekitar, lahan gambut menjadi tumpuan sumber air bersih, penyedia komoditas pangan non-kayu, dan penunjang mata pencaharian komunitas lokal. Selain itu, vegetasi di atas tanah gambut juga mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan yang dapat merusak kualitas air sumur warga di area pesisir.


2. Sistem Hidrologi

Ekosistem lahan gambut sangat penting dalam sistem hidrologi kawasan hilir suatu DAS karena gambut mampu menyerap air sampai 13 kali lipat dari bobotnya. Penyerapan air dalam volume besar ini berfungsi untuk meminimalkan risiko banjir di kawasan hilir. Sebaliknya, saat musim kemarau tiba, gambut melepaskan cadangan air tersebut secara perlahan guna menjaga stabilitas air sungai dan mencegah kekeringan ekstrem di wilayah sekitarnya.


Dampak Pengeringan dan Kebakaran pada Lahan Gambut

Ketika bentang alam ini dikeringkan melalui pembuatan kanal buatan secara serampangan, karakteristik hidrologisnya akan hancur. Gambut yang kering menjadi material yang sangat mudah terbakar. Api dapat merambat ke lapisan bawah permukaan dan memicu karhutla laten yang sangat sulit dipadamkan.


Mengacu pada laporan hukum dan lingkungan di Jurnal HDM Untag, dampak ekologis ini tidak hanya merusak tanah, tetapi juga memicu efek domino yang merugikan beberapa sektor vital kehidupan berikut:


1. Ekonomi

Kebakaran menghancurkan ekosistem perkebunan dan pertanian, menyebabkan gagal panen massal karena rusaknya lahan produktif serta matinya mikroorganisme penyubur tanah. Sektor kehutanan swasta maupun negara juga mengalami kerugian akibat hilangnya nilai ekonomi komoditas komersial dan tegakan kayu siap produksi.


2. Kesehatan

Asap pembakaran gambut membawa partikel halus berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5. Berdasarkan hasil publikasi ilmiah dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebaran zat beracun dan polutan udara ini berkontribusi signifikan terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dampak jangka pendeknya langsung memicu lonjakan kasus gangguan pernapasan akut secara massal di tengah masyarakat setiap kali kabut asap melanda permukiman.

3. Ekologi

Kebakaran melepaskan jutaan ton emisi gas rumah kaca (CO2 dan metana) ke atmosfer bumi yang mempercepat krisis iklim global. Di sisi lain, habitat flora dan fauna endemik seperti orangutan hancur, serta fungsi hidrologis spons gambut dapat mengalami penurunan secara signifikan.


4. Sosial

Kabut asap tebal membatasi jarak pandang secara ekstrem. Dampak sosialnya meliputi pelarangan aktivitas luar ruangan, penutupan aktivitas sekolah, hingga pembatalan jadwal penerbangan komersial yang berujung pada lumpuhnya roda harian masyarakat.


Solusi Restorasi dan Pentingnya Alat Ukur TMAT

Untuk menghentikan siklus kerusakan tersebut, langkah pemulihan ekosistem melalui restorasi mutlak dilakukan. Studi spasial yang diterbitkan dalam Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia menunjukkan adanya pengaruh restorasi terhadap pola sebaran dan dinamika hotspot pada kawasan gambut yang diteliti.


Salah satu pilar utamanya adalah pembasahan kembali (rewetting). Regulasi PP Nomor 57 Tahun 2016 menetapkan bahwa batas aman tinggi muka air tanah (TMAT) maksimal 40 cm di bawah permukaan tanah.


Agar pengawasan hidrologi ini berjalan akurat, pemasangan alat ukur TMAT otomatis berbasis IoT sangat krusial dipasang di titik rawan konsesi. Perangkat monitoring ini memantau fluktuasi air secara real-time. Jika sensor mendeteksi penurunan air mendekati batas kritis 40 cm, tim lapangan bisa segera melakukan intervensi pembasahan sebelum gambut mengering dan mudah terbakar.


Sumber:

Comments


bottom of page