top of page

Dampak Kebakaran Lahan Gambut

Aug 28
3 min read

Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem berharga yang berfungsi sebagai penyimpan karbon alami. Namun, ketika gambut mengalami kekeringan, kebakaran dapat merambat ke lapisan organik di bawah permukaan dan menyebabkan kerusakan yang lebih sulit dipulihkan dibandingkan kebakaran pada vegetasi permukaan.


Menurut laporan hukum dan lingkungan di Sejurnal mengenai Dampak Karhutla, efek kerusakan yang ditimbulkan dari fenomena ini bersifat jangka panjang dan mencakup berbagai sektor kehidupan. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai dampak destruktif kebakaran lahan gambut terhadap sifat tanah, kehidupan sosial, hingga ekosistem global.


Perubahan Sifat Fisik Tanah

Kebakaran mengubah struktur fisik gambut secara permanen. Ketika suhu panas ekstrem melanda, lapisan tanah kehilangan karakteristik hidrologis alaminya.


1. Penurunan Kapasitas Menahan Air

Tanah gambut alami memiliki sifat hydrophysical luar biasa, mampu menyerap air hingga 450-850% dari bobot keringnya. Pasca kebakaran, kemampuan ini merosot tajam. Gambut yang hangus kehilangan pori-pori organiknya, membuat tanah tidak lagi mampu mengikat dan menyimpan cadangan air hujan.


2. Subsidensi dan Kerusakan Struktur Pori

Suhu tinggi memicu dekomposisi massal dan kompresi volume tanah. Fenomena ini menyebabkan subsidensi, yaitu penurunan permukaan tanah daratan secara drastis. Kerusakan struktur pori makro dan mikro tanah juga membuat lahan menjadi padat, mematikan sirkulasi udara di dalam tanah.


3. Kering Hidrofobisitas

Salah satu dampak paling fatal adalah terbentuknya sifat hidrofobik (takut air). Gambut yang terbakar parah akan berubah sifat menjadi seperti plastik atau arang. Ketika kering, tanah ini sama sekali tidak bisa menyerap air dan justru menolaknya. Hal inilah yang memicu kekeringan ekstrem di musim kemarau dan banjir besar saat musim hujan.


Perubahan Sifat Kimia Tanah

Selain fisik, paparan suhu api yang membakar material organik di bawah permukaan juga merusak kesuburan dan keseimbangan kimia tanah.


1. Sangat Masam (pH Rendah)

Secara alami, lahan gambut memang memiliki tingkat keasaman tinggi (pH rendah sekitar 3–4). Proses pembakaran material organik sering kali melepaskan senyawa asam ke ekosistem sekitar. Berdasarkan riset pemantauan lingkungan dari Pantau Gambut, area bekas karhutla berisiko mencemari aliran air sekitar dan membuat tingkat keasaman air meningkat hingga lima kali lipat lebih asam.


2. Hilangnya Karbon Organik dan Nitrogen

Gambut adalah carbon sink (penyerap karbon) yang melimpah. Saat terbakar, kandungan C-Organik dan Nitrogen (N) yang menjadi nutrisi utama tanaman justru melepaskan karbon ke atmosfer. Akibat terganggunya rasio C/N ini, lahan bekas kebakaran menjadi gersang dan kehilangan kesuburan alaminya dalam jangka panjang.


3. Peningkatan Ketersediaan Logam Berat

Suhu panas memicu pelepasan dan peningkatan konsentrasi unsur logam terikat di dalam tanah. Logam berat yang teraktivasi ini berisiko tercuci oleh air hujan, lalu merembes dan mencemari air tanah dangkal serta mengontaminasi rantai makanan tanaman di atasnya.


Dampak Sosial Kebakaran Lahan Gambut Terhadap Manusia dan Sosial

Asap dan kerusakan lahan akibat karhutla memberikan pukulan telak bagi kestabilan hidup masyarakat sekitar.


1. Kerugian Ekonomi (Pertanian & Kehutanan)

Kebakaran lahan gambut berdampak besar pada kerugian ekonomi di sektor pertanian dan kehutanan. Pada sektor pertanian, bencana ini menyebabkan gagal panen karena kebakaran menghanguskan tanaman budidaya, merusak lahan produktif, dan mematikan mikroorganisme penyubur tanaman. Sementara itu, investasi juga hilang di mana sektor kehutanan swasta maupun milik negara mengalami kerugian akibat hilangnya nilai ekonomi tegakan kayu dan komoditas komersial.


2. Krisis Kesehatan

Asap pembakaran gambut membawa partikel halus berbahaya bernama PM2.5. Studi medis dari Fakultas Kedokteran UI mengungkapkan bahwa paparan PM2.5 dari asap gambut membawa komponen karbon kompleks dan logam berat yang memicu stres oksidatif serta kerusakan paru permanen. Banyak warga rutin terjangkit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) setiap kali karhutla terjadi.


3. Hambatan Aktivitas Masyarakat

Kabut asap tebal membatasi jarak pandang secara ekstrem. Dampaknya meliputi penutupan sekolah, pembatalan jadwal penerbangan transportasi udara, hingga pelarangan aktivitas luar ruangan yang melumpuhkan roda perekonomian harian.


Dampak Ekologi dan Krisis Iklim Global Lahan Gambut

Skala dampak karhutla tidak hanya bersifat lokal, melainkan meluas menjadi krisis lingkungan global.


1. Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Kebakaran menghancurkan habitat asli flora dan fauna endemik. Satwa langka seperti orangutan, harimau sumatera, dan beruang madu kehilangan tempat tinggal serta sumber makanan. Banyak di antaranya yang mati terpanggang atau terpaksa masuk ke pemukiman warga.


2. Kerusakan Fungsi Hidrologis

Kubah gambut yang rusak tidak lagi mampu berfungsi sebagai spons raksasa pengatur air. Sistem hidrologi kawasan hancur, memicu bencana banjir besar saat curah hujan tinggi karena tanah tidak dapat menyerap air, serta memicu kekeringan ekstrem di wilayah sekitarnya saat kemarau datang.


3. Pencemaran Kualitas Udara

Kebakaran melepaskan jutaan ton emisi gas rumah kaca (seperti CO2 dan metana) ke atmosfer bumi. Pelepasan karbon skala masif ini merusak kualitas udara lintas batas negara (asap lintas batas) dan menjadi salah satu pendorong utama percepatan krisis perubahan iklim global.


Untuk mencegah dampak akibat kebakaran lahan gambut ini, regulasi PP Nomor 57 Tahun 2016 menetapkan bahwa batas aman tinggi muka air tanah (TMAT) maksimal 40 cm di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu, pemasangan alat ukur TMAT otomatis berbasis IoT sangat krusial di titik rawan guna memantau fluktuasi air secara real-time, sehingga tim lapangan bisa segera melakukan pembasahan lahan (rewetting) sebelum gambut mengering dan mudah terbakar.


Sumber:

Comments


bottom of page