Mitigasi Terjadinya Kebakaran Lahan di Area Gambut

Lahan gambut merupakan salah satu ekosistem lahan basah paling berharga yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan menjaga keseimbangan tata air lingkungan. Namun, ketika ekosistem ini mengalami kerusakan dan kekeringan, risiko terjadinya kebakaran lahan meningkat secara drastis.
Kebakaran lahan gambut menjadi bencana tahunan yang sangat menakutkan karena apinya sulit dipadamkan dan menyebarkan asap ke wilayah luas sehingga mengganggu kualitas udara. Oleh karena itu, langkah mitigasi yang terencana dan berbasis teknologi sangat diperlukan untuk melindungi ekosistem gambut dari ancaman bencana ini.
Pengertian Kebakaran Lahan Gambut
Kebakaran lahan gambut adalah peristiwa terbakarnya lapisan material organik di bawah maupun di atas permukaan tanah pada kawasan rawa gambut. Berbeda dengan kebakaran pada tanah mineral biasa yang apinya melalap vegetasi di permukaan (surface fire), kebakaran lahan gambut didominasi oleh tipe kebakaran bawah (ground fire atau smouldering fire).
Pada tipe kebakaran ini, api merambat secara perlahan dan menyebar secara horizontal di dalam rongga-rongga tanah gambut yang kering. Karakteristik pembakaran membara tanpa nyala api terbuka ini membuat kebakaran lahan gambut sangat sulit dideteksi dan sering kali baru teridentifikasi setelah area yang terbakar meluas serta mengeluarkan kabut asap tebal.
Karakteristik Lahan Gambut yang Mudah Terbakar
Lahan gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna akibat kondisi tergenang air (anaerobik) selama ribuan tahun. Dalam kondisi alaminya yang basah, gambut memiliki sifat mirip spons yang mampu menyerap dan menahan air yang mencapai 100-1300% dari bobot keringnya.
Namun, bahan organik yang melimpah (serasah, ranting, dan kayu purba) membuat gambut memiliki karakteristik seperti batu bara. Ketika lahan ini kehilangan kelembapannya dan mengering, tumpukan material organik tersebut berubah fungsi menjadi sumber bahan bakar yang sangat mudah terbakar dan memicu kebakaran lahan yang destruktif.
Penyebab Kebakaran Lahan
Degradasi ekosistem gambut yang memicu kebakaran umumnya dipicu oleh kombinasi antara dua faktor utama, yaitu:
1. Aktivitas manusia
Alih fungsi lahan menjadi area perkebunan sering kali disertai dengan pembuatan drainase atau kanal. Pembuatan kanal ini menyebabkan air keluar dan menurunkan tinggi muka air tanah secara drastis, sehingga gambut menjadi kering. Selain itu, praktik pembukaan lahan dengan teknik tebas bakar (slash and burn) menjadi pemicu utama munculnya api.
2. Faktor alam
Fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, suhu udara meningkat, dan intensitas curah hujan menurun. Tanpa adanya suplai air hujan, muka air tanah gambut akan turun secara alami dan menyebabkan lapisan atas gambut mengering.
Dampak Kebakaran Lahan Gambut
Ketika kebakaran lahan gambut terjadi, berbagai sektor kehidupan akan mengalami kerugian, seperti:
Dampak Ekologis
Rusaknya fungsi alami gambut sebagai pengatur air dan penyimpan karbon. Air di sekitar lokasi kebakaran akan mengalami pencemaran hingga tingkat keasamannya meningkat, serta memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan satwa yang dilindungi.
Dampak Kesehatan
Asap dari kebakaran lahan mengandung polutan partikulat (PM2.5) dan gas beracun yang memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta meningkatkan risiko kematian dini.
Dampak Iklim
Terbakarnya lahan gambut melepaskan karbon (CO2) ke atmosfer. Kebakaran ini juga melepaskan gas metana (CH4) lebih banyak dibanding lahan biasa, di mana gas metana memiliki potensi menahan panas yang lebih besar daripada CO2, sehingga mempercepat laju pemanasan global.
Dampak Ekonomi
Negara mengalami kerugian besar akibat lumpuhnya aktivitas transportasi udara dan darat, terhentinya perdagangan, penurunan hasil pertanian, serta peningkatan biaya medis masyarakat.
Pencegahan Kebakaran Lahan
Pencegahan kebakaran lahan yang efektif tidak boleh menunggu sampai asap atau titik api muncul di permukaan. Kunci utama pencegahan adalah mempertahankan kelembapan alami dengan memastikan tinggi muka air tanah (TMAT) tidak turun lebih dari 40 cm di bawah permukaan tanah. Jika melewati batas kritis tersebut, lahan dinyatakan berstatus rawan terbakar.
Untuk mendukung pemantauan tersebut, teknologi berupa Alat Ukur Tinggi Muka Air Tanah berbasis Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memantau perubahan tinggi muka air tanah secara otomatis. Sistem ini memanfaatkan sensor tinggi muka air, data logger, dan konektivitas internet untuk merekam data hasil pengukuran.
Perangkat ini dapat beroperasi selama 24 jam untuk merekam perubahan tinggi muka air tanah secara berkala. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan lahan gambut. Penerapannya di kawasan gambut juga mendukung pemantauan kondisi tata air serta upaya menjaga keberlanjutan ekosistem gambut.
Sumber:



Comments