top of page

Dampak SO₂ dari Gunung Anak Krakatau terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Manusia

11 minutes ago
3 min read

Aktivitas vulkanik sering kali membawa dampak besar terhadap keseimbangan ekosistem dan kualitas udara di berbagai wilayah. Selain melontarkan material padat berupa abu vulkanik, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga melepaskan berbagai emisi gas ke atmosfer. Salah satu emisi yang menjadi sorotan adalah gas sulfur dioksida (SO₂).


Menjaga kesadaran akan bahaya polutan udara serta memahami dampaknya terhadap kesehatan penting merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat.


Isu Penyebaran Gas SO₂ dari Gunung Anak Krakatau

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memicu perbincangan publik setelah citra satelit merekam sebaran gas sulfur dioksida (SO₂) yang meluas. Narasi yang beredar sempat memicu kekhawatiran massal mengenai potensi bahaya langsung yang dihirup oleh warga di permukaan tanah.


Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Geologi menjelaskan bahwa sebaran warna merah pada citra satelit menggambarkan konsentrasi gas di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan kondisi udara di permukaan tanah secara langsung.


Gas SO₂ dapat mengalami reaksi dengan oksigen dan uap air di udara, lalu membentuk senyawa sulfat atau aerosol yang membaur dengan abu vulkanik halus. Meskipun telah mengalami perubahan bentuk, partikel halus turunan ini tetap berpotensi menurunkan kualitas udara ambien dan tidak boleh disepelekan.


Mengenal Gas SO₂ dan Dampaknya bagi Kesehatan

Sulfur dioksida SO₂ adalah gas tidak berwarna dengan bau menyengat, serupa dengan aroma korek api yang terbakar. Gas ini tersusun dari satu atom sulfur dan dua atom oksigen, dan berasal dari proses alami seperti aktivitas gunung berapi maupun emisi pembakaran bahan bakar fosil industri.


Saat konsentrasi senyawa sulfur dioksida (SO₂) ini melonjak di udara, zat tersebut dapat mengiritasi dinding saluran pernapasan manusia. Dampak jangka pendek dari paparan ini meliputi penyempitan saluran napas, batuk, tenggorokan gatal, hingga memicu kesulitan bernapas yang parah.


Selain itu, akumulasi SO₂ dalam konsentrasi tinggi di atmosfer juga dapat merusak jaringan dedaunan tumbuhan serta berkontribusi langsung pada terjadinya fenomena hujan asam yang merusak properti dan ekosistem air.


Penyakit yang Berhubungan dengan Kualitas Udara

Penurunan kualitas udara akibat lonjakan polutan gas SO₂ dan partikulat halus berpotensi memicu gangguan kesehatan serius pada manusia, seperti:


1. Penyakit Jantung Iskemik

Partikel polutan mikroskopis yang terhirup dapat menembus jaringan paru-paru dan masuk ke dalam sistem peredaran darah. Hal ini memicu reaksi inflamasi sistemik dan mempercepat penebalan pembuluh darah, yang meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik atau serangan jantung akibat penyumbatan pasokan darah.


2. Penyakit Stroke

Sama halnya dengan gangguan jantung, penyumbatan sirkulasi darah yang dipicu oleh akumulasi partikel polutan dalam darah dapat mengganggu suplai oksigen menuju otak. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya serangan stroke mendadak pada populasi yang terpapar.


3. Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Bagi penderita penyakit pernapasan kronis seperti Asma Bronkial atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), menghirup partikel abrasif abu vulkanik dan polutan sulfat dapat memicu serangan sesak mendadak (ekserbasi akut).


4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut

Paparan debu halus dan gas iritan menggesek dinding tenggorokan dan saluran pernapasan secara langsung. Gesekan dan iritasi ini memicu reaksi peradangan lokal dengan gejala batuk, berdahak, pilek, tenggorokan gatal, hingga meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).


5. Meningkatkan Risiko Morbiditas dan Kematian

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsentrasi polutan SO₂ dan partikel turunannya dapat mengganggu fungsi paru-paru secara signifikan. Paparan polusi berat secara akumulatif dalam jangka panjang dapat meningkatkan tingkat morbiditas serta risiko kematian dini akibat komplikasi pernapasan dan kardiovaskular.


Langkah Imbauan Keselamatan

Guna meminimalkan risiko paparan zat berbahaya ini, masyarakat dan pengelola kawasan diimbau untuk mengambil langkah preventif. Hal itu meliputi pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan saat kabut polusi menebal dan penggunaan masker standar (seperti N95) saat terpaksa bepergian.


Namun, risiko pencemaran udara yang tidak terlihat secara langsung memerlukan pemantauan dengan alat ukur yang tepat. Pengamatan secara manual saja belum cukup untuk mengetahui perubahan kualitas udara secara akurat, terutama di lingkungan pemukiman, perkantoran, maupun kawasan industri.


Oleh karena itu, AQMS (Air Quality Monitoring System) dapat digunakan untuk memantau kualitas udara secara otomatis dan berkelanjutan. Sistem ini dapat memantau berbagai parameter kualitas udara, seperti SO₂, NO₂, CO, O₃, PM2.5, dan PM10, sesuai dengan konfigurasi perangkat. Data hasil pemantauan dapat ditampilkan pada dashboard secara real-time sehingga memudahkan pengelola dalam mengetahui perubahan kualitas udara dan mengambil tindakan yang diperlukan.


Sumber:

Comments


bottom of page